Sabtu, 03 September 2016

PIALA PERTAMA DEA

PIALA PERTAMA DEA
Vanda Nur Arieyani

Siang ini Dea dan Isya dua orang kakak beradik  pulang sekolah sambil membawa sebuah piala yang cukup besar.  Terburu-buru Isya membuka pintu pagar dan berteriak lantang.

“Mamaaa … aku menang lomba olimpiade matematika.”

“Isya, kenapa sih kok teriak-teriak begitu.  Kan nggak sopan,”  kata Dea mengingatkan Isya .
Mama yang sedang sibuk di dapur sampai kaget dibuatnya.  Segera Mama membukakan pintu dan menyongsong dua putrinya.

Ada apa, pulang sekolah belum mengucap salam kok sudah teriak-teriak begitu,”  kata Mama sambil memeluk Dea dan Isya bergantian.

“Ngak tau tuh Ma, Isya,” Dea berkata sambil cemberut pada adiknya.

“Wah … ada kejutan rupanya, piala siapa ini?” tanya Mama

“Punya itu tuh Ma, si cerewet Isya,” Dea berkata sambil melirik Isya.

“Wee … kakak pasti iri, nggak dapat piala,”  Isya menyela tak mau kalah.

“Ehh, sudah …sudah, kok malah saling mengejek begitu.”  Mama segera mendamaikan sebelum pertengkaran terjadi.
Begitulah, Dea gadis cilik manis kelas 5 SD dan adiknya Isya gadis mungil berpipi gembul bermata bulat kelas 3 SD.  Dua orang kakak beradik yang saling menyayangi tapi juga sering berselisih pendapat. 
***

Dea termangu di depan TV, matanya menatap layar TV tapi pikirannya lari kemana-mana.  Dea memandang deretan piala di atas buffet.  Ada enam buah piala di atasnya,  dan nama Isya-lah yang tertera di atas piala-piala itu.    Dea sedih, mengapa dia tidak seperti Isya adiknya yang sering menang lomba.  Lomba baca puisi, lomba bercerita, dan terakhir kemarin lomba olympiade matematika.

“Fiuhh … “  Dea mendengus kesal

Apalagi ketika mengingat, nenek, kakek, om dan tantenya juga sering memuji-muji Isya di depannya.  Kenapa sih, semua suka membicarakan Isya.

Ada apa Dea, kok kelihatannya kesal begitu?”  Tiba-tiba Mama yang  sedang membaca buku di sampingnya menoleh.

“Engg .. itu Ma, Dea kesal sama Isya.”

“Kenapa?” tanya Mama heran

Dea akhirnya bercerita kekesalan hatinya pada Mama.  Mama cuma tersenyum.  Dielusnya rambut pajang Dea dengan penuh sayang, lalu tiba-tiba mama berdiri dan menggandeng tangan Dea.

“Ayo ikut Mama.”

Dea menurut saja, ketika Mama mengajaknya ke halaman di belakang rumah. Tempat ini adalah tempat favorit keluarga.  Hawanya sejuk, ada pohon mangga besar yang daunnya rimbun.  Dan di sekitarnya Mama menanam tanaman hias, ada bunga mawar, angrek, alamanda, dan berbagai jenis tanaman lainnya.  Tanaman itu di tata sendiri oleh Mama hingga terlihat enak dan cantik di pandang. Mama mengajak Dea duduk di bangku.
“Dea, lihat kupu-kupu itu !” Seru Mama.
  Seekor kupu-kupu hinggap di atas bunga mawar.  Kupu-kupu dengan sayap cantik itu terbang mengitari taman hinggap dari bunga yang satu ke bunga yang lain.  Pandangan mata Dea  tertuju ke arah yang di tunjuk Mama.
Kemudian Mama bercerita, jika diamati, kupu-kupu hanya bisa melihat keindahan sayap teman-temannya.  Sedangkan ia sendiri mungkin memiliki sayap yang lebih indah.  Namun tak ia sadari.  Begitu juga manusia, seringkali tidak menyadari kelebihan dirinya.  Ia merasa tak punya sesuatu hal pun yang bisa dibanggakan.  Sama seperti kupu-kupu yang tidak bisa melihat sayap miliknya sendiri.

Kan bisa lihat kaca kalau ingin tahu keindahan sayapnya,”  celetuk Dea.
“ Hi hi hi iya, kalau kupu-kupu ya berkaca di air kolam itu,” kata Mama tertawa sambil menunjuk kolam ikan di samping rumah .

“Mama yakin, Dea juga nggak kalah sama Isya.  Cuma saja kamu belum menyadari , dan kelebihanmu tentu tidak sama dengan Isya.”

Dea tersenyum, kekesalannya pada Isya sudah lenyap, karena cerita Mama tentang sayap kupu-kupu.  Tapi Dea masih berpikir, kira-kira apa ya kelebihan dirinya?

***
 
“Dea, kamu di panggil Pak Hadi di ruang guru,”  kata Asrul sang ketua kelas.

“Iya, ada apa ya Srul?” tanya Dea.

“Ahh … paling kamu di suruh menyapu ruang guru,” jawab Asrul asal.

Sambil berdebar Dea melangkah menuju ruang guru.  Dea menuju meja Pak Hadi yang terletak paling ujung.  Pak Hadi adalah guru olah raga yang terkenal paling tegas pada murid-muridnya.  Semakin dekat ke meja Pak Hadi hatinya semakin berdebar.  Dea merasa tidak punya masalah.

“Ayo duduk Dea,” kata Pak Hadi.

Ternyata beberapa temannya juga sudah ada di sana. Lega … rasanya.  Ternyata Pak Hadi justru memberi kabar mengejutkan.  Dea terpilih menjadi salah satu wakil sekolah pada porseni tahun ini.  Dea mewakili sekolah dalam lomba ketangkasan.
Selama satu bulan ini Dea  dan teman-teman yang menjadi wakil di porseni berlatih hampir tiap hari.
Dea begitu semangat mengikuti latihan.  Dea ingin menunjukkan kalau dia juga bisa.  Memang Dea tidak jago matematika dan menyanyi seperti Isya.  Atau jago Berpidato seperti Billa.  Dea juga tidak pandai melukis seperti Kayla.  Ternyata Pak Hadi sudah menjadi cermin untuk Dea.  Sehingga Dea tahu, jika dia jago olah raga.  Terutama bulu tangkis dan ketangkasan. 
Selama ini Dea tidak menyadari jika teman-temannya sangat  mengagumi jika dia sudah beraksi jungkir balik, atau  meluncur pakai tali dari gedung lantai dua sekolahnya.  Apalagi jika dia sudah lomba memanjat pohon dengan teman-temannya.  Dea pasti menang.  Padahal teman-temannya yang perempuan banyak yang tidak berani naik pohon.
***
Sorak sorai penonton menambah semangat para peserta porseni.  Kali ini giliran  Dea.  Suara teman-teman yang menyemangatinya membuat Dea yakin kalau bisa.  Semua jenis ketangkasan, mulai melompat, merayap, meniti, jungkir balik ia lakukan dengan sukses.
Kini tiba saat pengumuman para pemenang .  Kembali hati Dea berdebar-debar.  Ketiba tiba-tiba terdengar suara cukup nyaring menyebut namanya, “Nadia Alifa Putri.” Dea  sangat terkejut.  Namanya diumumkan sebagai juara pertama lomba ketangkasan.
Dea maju ke atas panggung untuk menerima piala dan hadiah.  Teman-teman dan para guru bertepuk tangan ikut bergembira atas kemenangannya.

“Akhirnya aku tahu keistimewaanku,” batin Dea sambil mendekap piala pertamanya.


*Rumah Hijau, 031052011



Cernak ini ditulis saat awal-awal saya belajar menulis. Saat saya memantapkan hati untuk belajar menulis cernak . Dan sampai sekarangpun masih belum 'entos' juga menulis cernak yang baik dan benar. Buktinya, bertumpuk-tumpuk cernak di folder yang belum tahu bagaimana nasibnya. Sebagian ada juga yang dikembalikan karena menurut pihak redaksi belum layak tayang. Sedih, galau, sedikit patah hati pasti lah, namanya juga ditolak. 

Cernak di atas aslinya berantakan sangat.  EYD yang belepotan, tanda baca yang ngawur di sana-sini. Maklum, belajar memang harus pernah salah, biar tahu yang mana yang benar ya kan? 

Cernak ini saya tampilkan di sini setelah di edit sana-sini biar rapi dan lebih enak dibaca,  sebagai kenang-kenangan. Sekaligus untuk menghidupkan kembali Blog ini. Karena cernak ini, adalah cernak pertama yang tampil dalam sebuah buku keroyokan, "Dear Love for Kids" yang dipersembahkan untuk anak-anak Indonesia, diterbitkan indie oleh Hafsa Publisher.  Sekaligus aslinya itu curhatan mamak-mamak yang dijadikan cerpen :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar